Peran AI di Era Disrupsi Digital
Resume Webinar Artificial Intellegence Summit 2020
Peran Strategis Kecerdasan Artificial dalam Mendukung Keunggulan Daya Saing Nasional di Era Disrupsi Digital
Pembicara :
Prof. Rhenald Kasali, Ph.D.
Prof. Rhenaldi Kasali, Ph.D. menjelaskan bahwa bangsa yang kuat merupakan bangsa yang bisa mengendalikan ekonominya serta mandiri dan memiliki kekuatan terhadap perubahan global. Karena setiap bangsa akan membuat produk mereka menggunakan AI yang lebih efisien dan berdaya saing tinggi. Namun jika bangsa kita tidak membangun industri yang berbasis daya saing terbaru, maka banyak tenaga kerja yang menganggur dan akan lebih banyak mengkonsumsi produk bangsa lain.
AI telah menjadi New universal Mechine of Excecution sebagaimana perubahan yang diciptakan pada era industry 3.0. Pada era industry 3.0 peran otot tergantikan oleh peran mesin sehingga wanita pun mulai berperan dalam dunia kerja. Sedangkan memasuki era industry 4.0 maka human intellegence mulai tergantikan oleh peran artificial intellegence.
Didalam peradaban AI segala aspek kehidupan dapat dibantu dengan AI. Selain itu AI juga mampu meningkatkan capabillity, sehingga membuat bisnis atau produksi menjadi lebih efisien, aman, akurat, cepat, meningkatkan scale & scoop, dan lebih berdaya saing.
AI juga dapat mengganti atau melengkapi human intellegence baik dalam pengambilan keputusan maupun eksekusi. Pada awalnya AI hanya menjadi support system, namun kini AI dapat menjadi proofit center (peningkat produktivitas).
Artificial Intellegence terdiri dari 3 level yaitu :
1. Artificial Narrow Intellegence (ANi)
2. Artificial General Intellegence (AGi)
3. Artificial Super Intellegence (ASi)
AI merupakan inovasi baru dan penting dalam perkembangan 4G dan 5G. AI juga mampu menciptakan lompatan capabillities melalui mobilisasi dan orkestrasi dengan memberikan kemampuan scalling up dan scoop up. Sehinga segalanya mudah untuk dikontrol. Terjadi otomatisasi dan dilengkapi dengan smart devices, smart goverment and city, smart companies dan juga membutuhkan smart talent. Sehingga jarak dan waktu tidak menjadi suatu masalah karena semua terhubung melalui mobilisasi dan orkestrasi.
Keuntungan Artificiall Intellegence :
1. Dengan AI negara menjadi lebih aman dari kriminalitas
2. Layanan menjadi lebih cepat & memahami pengguna
3. Daya saing lebih meningkat dan efisien
4. peluang bagi kaum muda
5. serta investasi hanya pada opex and system
Namun disamping itu, AI juga memiliki dampak negatif yaitu :
1. Masalah privacy, data security, dan human right
2. Manusia menjadi tidak sabar serta ingin segala sesuatu secara cepat, humanisme berubah, validity intellegence menjadi penting
3. Perlu melatih ulang pegawai dan transformasi
4. Negara perlu investasi besar dalam ICT Infrastructure & terjadi SUNK COST TRAP pada sejumlah incumbent
Kesimpulan :
AI adalah keniscayaan, tanpa lingkungan dan infrastruktur ICT, maka Indonesia akan kehilangan daya saing, sehingga akan kalah pruduktif dengan Asean Peers.
Dalam jangka pendek AI dapat mengakibatkan pengangguran (yang terselubung akibat dampak covid-19), namun pada saat yang sama terdapat rekrutmen SDM muda baru secara masif (digital talent) yang memerlukan perhitungan yang cermat.
Dibutuhkan tempat bagi tenaga kerja terdampak AI, yang dilengkapi infrastruktur digital dan teknologi sederhana. Saat ini potensinya adalah Ekonomi Pedesaan Baru (Smart Village Economy).
Daya saing Indonesia ditentukan oleh : Strategi nasional berbasis ekosistem, Transformasi bisnis perlu dilakukan secara masif, Investasi masif pada ICT Instructur, Pasokan digital talent secara masif melalui pendidikan, dan partisipasi para penonton ekonomi (non consumer) menjadi konsumen baru yang menciptakan ekonomi produktif.
Saat infrastruktur digital dan AI menjadi norma baru, kita harus menggunakan cara yang baru yaitu : Membuang kebiasaan lama dalam menguasai ekonomi dalam mata supplu, Menghidupkan diri dalam rantai baru ekosistem yang saling menghidupi antar pelaku usaha besar dan kecil, Indonesia perlu membangun infrastruktur penangkapan dan penggunaan data dunia sehingga bisa menyerang global market dan menghadapi serangan perang dunia baru, mengubah tradisi menajemen konvensional menjadi orkestrasi ekosistem, membiasakan hidup dengan bekerja dari mana saja secara produktif, membangun budaya kerja secara profesional, dan harus melakukan rethinking the firm & ecosystem.
Komentar
Posting Komentar